IHSG Hari Ini Berpeluang Tembus 6.200, Ada Stimulus Pemerintah Rp31 Triliun dan Sentimen The Fed

EKBISindo.com – IHSG hari ini kembali bergerak positif pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, seiring dengan penguatan yang terjadi di sebagian besar bursa saham kawasan Asia dan pasar global. Kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi pergerakan indeks saham domestik di awal perdagangan.

Pada pembukaan perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 20,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.139,13. Penguatan juga terlihat pada kelompok saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam Indeks LQ45.

Indeks LQ45 tercatat meningkat 2,23 poin atau 0,37 persen ke posisi 605,46. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif masih mewarnai pasar saham Indonesia di tengah investor yang mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan penguatan IHSG masih memiliki peluang untuk berlanjut. Menurut dia, indeks berpotensi menguji area 6.150 hingga 6.200 dalam perdagangan berikutnya.

“Penguatan IHSG diperkirakan masih berpotensi berlanjut dengan menguji level 6.150-6.200,” kata Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Baca Juga: Dunia Hadapi Suku Bunga Tinggi dan Konflik Geopolitik, Sektor Jasa Keuangan Indonesia Tetap Stabil

Salah satu sentimen eksternal yang menjadi perhatian investor adalah pergerakan harga minyak mentah dunia. Pada Senin, 5 Oktober 2026, harga minyak global mengalami penurunan sekitar 1,9 persen hingga berada di kisaran 100 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak tersebut dipengaruhi oleh mulai pulihnya ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Selain itu, langkah negara-negara G7 dalam meredam kekhawatiran terhadap pasokan energi turut memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Pemerintah Yaman yang memperoleh dukungan Arab Saudi melakukan serangan balik untuk mengambil kembali wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb dari kelompok Houthi yang didukung Iran.

Dari Amerika Serikat, data ketenagakerjaan yang menunjukkan pelemahan turut memberikan ruang bagi ekspektasi bahwa The Federal Reserve atau The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.

Kombinasi antara penurunan harga minyak dan melemahnya data ketenagakerjaan AS dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap bank sentral AS untuk kembali meningkatkan suku bunga acuannya. Pasar pun memperkirakan Fed Funds Rate (FFR) berpotensi dipertahankan pada Oktober 2026.

Meski demikian, investor masih akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode September 2026. Dokumen tersebut dinantikan karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed pada periode selanjutnya.

Baca Juga: Produksi Lokal Jadi Babak Baru BYD, Hadirkan Lebih Banyak Pilihan Mobilitas Keluarga di GIIAS Semarang 2026

Selain kebijakan moneter AS, tingginya biaya pinjaman global masih menjadi salah satu risiko yang membayangi pasar keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan 30 tahun masih berada pada level tinggi yang terakhir terlihat pada awal 2002.

Tekanan serupa juga terlihat di Eropa. Yield obligasi pemerintah Prancis tenor acuan pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak Juli 2002. Kondisi tersebut terjadi setelah pemerintah Prancis mengumumkan rancangan anggaran 2027 dengan target defisit sebesar 5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pemerintah Prancis juga menargetkan pengurangan belanja hingga 54 miliar euro sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi fiskal. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar global.

Dari dalam negeri, sentimen positif bagi IHSG datang dari kebijakan pemerintah yang akan menggelontorkan stimulus ekonomi sebesar Rp31 triliun pada kuartal IV 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat perekonomian sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Stimulus pemerintah tersebut mencakup sejumlah program. Salah satunya berupa pembukaan rekening bagi warga negara berusia di atas 17 tahun yang masuk kelompok desil 1 sampai 4, dengan anggaran mencapai Rp1,28 triliun.

Pemerintah juga menyiapkan bantuan pangan berupa beras sebanyak 10 kilogram dengan total anggaran Rp17,5 triliun. Sementara itu, program subsidi upah memperoleh alokasi dana sebesar Rp12 triliun.

Kebijakan tersebut berpotensi menjadi salah satu sentimen domestik yang diperhatikan investor karena berkaitan dengan konsumsi masyarakat, kesempatan kerja, serta kesinambungan aktivitas dunia usaha.

Memasuki 2027, pemerintah juga menyiapkan kelanjutan berbagai program ekonomi. Di antaranya program magang yang ditargetkan menjangkau 150.000 peserta dan pelatihan vokasi untuk 300.000 orang.

Baca Juga: Rayakan perjalanan 36 tahun, Sheraton Bandung hadirkan lebih banyak ruang untuk berkumpul, berbagi, dan bersama

Pemerintah turut memperluas kebijakan pengurangan PPh Pasal 21 bagi pekerja dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan ke seluruh sektor. Kebijakan tersebut diproyeksikan mencakup sekitar 7,5 juta pekerja.

Di sektor properti, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga diperpanjang hingga 2027 untuk rumah dengan harga sampai Rp2 miliar. Insentif juga diberikan terhadap bagian harga hingga Rp2 miliar untuk pembelian rumah dengan harga maksimal Rp5 miliar.

Selain itu, pemerintah menyiapkan skema KPR bersubsidi dengan bunga 6 persen bagi masyarakat berpenghasilan tetap dengan pendapatan sekitar Rp17 juta. Fasilitas tersebut ditujukan untuk pembelian rumah dengan harga hingga Rp500 juta.

Sementara itu, bursa saham global menunjukkan pergerakan yang relatif positif. Di Eropa, Euro Stoxx 50 naik 0,04 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,34 persen, dan DAX Jerman meningkat 0,09 persen. Sementara CAC 40 Prancis terkoreksi 0,80 persen.

Wall Street juga ditutup kompak menguat pada perdagangan Senin. S&P 500 naik 0,66 persen ke level 7.773,95, Nasdaq Composite menguat 1,05 persen menjadi 27.477,31, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,18 persen ke posisi 51.267,90.

Pergerakan bursa Asia pada Selasa pagi turut menunjukkan hasil beragam. Nikkei menguat 0,36 persen ke 70.200,00 dan Hang Seng naik 0,57 persen ke 24.178,50. Sebaliknya, Kospi melemah 0,74 persen ke 6.951,44 dan Straits Times turun 0,32 persen ke 5.646,06.

Adapun bursa Shanghai tidak melakukan perdagangan karena China masih memperingati Golden Week atau rangkaian libur Hari Nasional China.

Dengan berbagai sentimen tersebut, investor domestik masih akan mencermati kemampuan IHSG mempertahankan momentum penguatan sekaligus menembus area 6.150-6.200. Pergerakan bursa global, arah kebijakan The Fed, harga minyak, serta implementasi stimulus pemerintah menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pasar saham Indonesia dalam waktu dekat.***